SDN TUNAS HARAPAN I DAN II PUSAT PENGEMBANGAN POTENSI SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS

Sekolah Dasar Negeri Tunas Harapan I dan  II sekolah favorit yang berlokasi di Jalan Cijerah Bandung Kulon sejak tahun 2002 terpilih sebagai Pilot Project siswa berkebutuhan khusus dari UNESCO. Untuk tahun ajaran 2009/20010 di SDN Tunas Harapan tercatat sebanyak 32 siswa berkebutuhan khusus. Ke 32 siswa berkebutuhan khusus di antaranya menderita ADD / Attention  Defisit Disorder (hambatan dalam berkonsentrasi), MR / Mentally Retardation (keterbelakangan mental), ADHD / Attention Defisit And Hiperactivity Disorder (hambatan konsentrasi dengan hiperaktifitas), ASD / Autistic Syndrome Disorder (gangguan sindrom autistic), SL / Slow Learner (lamban belajar), LD / Learning Disability (kesulitan belajar), EBD / Emotion Behavior Disorder (hambatan emosi dan prilaku).
Kepala Sekolah SDN Tunas Harapan I  Uun Djunaedi, S.Pd ketika diwawancarai program apa yang diterapkan untuk mendidik para siswa berkebutuhan khusus ini. Dia mengatakan, guru dituntut untuk bisa mengembangkan variasi metode pembelajaran pendidikan yang menggunakan kurikulum baku. Di samping guru tetap yang sudah ada. dibutuhkan guru pendamping yang jumlahnya mencapai 20 orang guru pendamping. Itu memang harus ada karena kalau tidak ada kami kewalahan. Hal tersebut juga sangat bergantung pada pengembangan kurikulum untuk mengukur sejauh mana kemampuan guru. Memang metode yang digunakan tetap kurikulum yang baku. “Di sinilah uniknya, “ ujar Uun. Lebih lanjut Uun mengatakan, para siswa di samping diberikan pendidikan yang bersifat khusus atau klasikal, mereka juga diberikan metode pendidikan secara individual. Jadi metode yang kita gunakan selain ada kelas bersama bagi mereka tetapi tidak selamanya juga kita menggunakan kelas individual.
Hasil yang diperoleh selama kami menerapkan metode tersebut, para siswa akan kembali normal setelah mengikuti pendidikan selama satu tahun.
Selain itu saya juga meminta perhatian dari Pemkot khususnya Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat berupa dana dan alat-alat bantu guna mendukung terlaksananya program siswa berkebutuhan khusus dari UNESCO tersebut.
Menurutnya karena selama ini mengandalkan dana dari UNESCO dan dari wali murid yang hanya sebatas infaq.
Seorang guru pendamping yang sedang mendampingi para siswa berkebutuhan khusus ketika dimintai keterangannya mengatakan, tugas saya mendampingi para siswa autis. Ketika mereka beraktivitas dari pagi sampai jam 12.00 siang akan terlihat bermacam-macam tingkah laku mereka. Jadi tugas utama saya sebagai pendamping mereka adalah mengatur semua jadwal, menyiapkan ulangan sampai ke evaluasi program sejauh mana perkembangan mereka ke arah tingkah laku yang normal.  
Sementara Kepala Sekolah SDN Tunas Harapan II Hj. Siti Chafidhoh, S.Pd di sela-sela  mendampingi para siswa berkebutuhan khusus mengatakan, mereka terkadang bertingkah nakal tapi sering juga bertingkah baik. “Contohnya si Kamal nih, dia suka memberikan bunga ke saya, “ ujarnya. Bandung,  Dedi Wahyudi, melaporkan untuk Cakrabuanatv.com.