DEWAN MASJID INDONESIA GELAR SEMINAR
SISTEM KEUANGAN SYARIAH
Jakarta, Cakrabuana – Dewan Masjid Indonesia (DMI) menggelar
seminar sehari prospek lembaga keuangan syariah di era krisis
finansial global, Senin (30/09) di Aula Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.
Seminar bertemakan dengan melaksanakan sistem keuangan pada
kekuatan bisnis dan pelayanannya dapat mengatasi dampak krisis
finansial global dihadiri ratusan peserta yang terdiri dari para
pengurus masjid dan para mubaligh mubalighoh.
Hadir pada kesempatan tersebut Ketua Umum PP Dewan Masjid
Indonesia Dr. KH. Tarmizi Taher dan para pembicara pada
seminar menampilkan di antaranya Dr. H. Mulya Effendi Siregar
(BI), Prof. Dr. Veithzal Rivai, MBA, H. Achmad Riawan Amin, M.Sc
(Bank Muamalat), Yuslam Fauzi (Bank Mandiri Syariah). Seminar
diimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an dan ditutup
do’a oleh KH. Misbachul Munir, acara juga dibagi kepada tiga sesi.
Sesi pertama diisi sambutan ketua DMI, sesi kedua dan ketiga diisi
oleh para pembicara diantaranya pembahasan tentang riba dan
bunga bank serta dampak negatif yang ditimbulkannya.
Ketua panitia seminar Drs. Ruswanto Syamsudin, M.Ag ketika
dimintai keteranganya mengatakan, barang siapa yang bertakwa
kepada Allah akan diberikan kemudahan segala urusan, namun
yang terjadi sekarang ini kan krisis demi krisis bahkan sudah
terjadi krisis ke tingkat global dimana yang berkuasa ekonomi
kapitalis. Kini sudah saatnya kita kembali kepada sistem ekonomi
Islam. Sekarang memang sudah berdiri bank-bank Islam, namun
kan pertumbuhannya masih sedikit, karena itu sebagai umat Islam
kita perlu kembali kepada sistem Islam. Kami dari Dewan Masjid
Indonesia kita mencoba mensosialisasikan, menawarkan sistem
ekonomi Islam sebagai alternative untuk mengatasi krisis finansial global.
Harapannya masyarakat muslim mau mendukung sistem keuangan
Islam hingga tercipta kemakmuran, tentu ini akan menjadi solusi bagi
dunia intenasional khususnya. “Kami mengundang dari para pengurus
masjid dan para mubaligh mubalighoh di Jabodetabek, mereka biasa
berkhotbah di mimbar dan juga di majlis-majlis taklim. “Kalau mereka
mendapatkan masukan dan pengetahuan yang jelas mengenai sistem
ekonomi syariah Islam, kita berharap mereka akan mendakwahkannya.
Sehingga masyarakat dapat menjalankan sistem ini, ” ujarnya.
Sementara Lina, selaku Wakil Ketua Panitia menerangkan, kegiatan
seminar ini bertujuan mensosialisasikan keuangan syariah di masyarakat,
masjid adalah tempat yang paling tepat untuk melaksanakan sosialisasi
tersebut. “Dengan terlaksananya seminar ini kami berharap semoga umat
Islam lebih mempercayakan untuk menyimpan dananya di bank-bank
syariah, ” ujar Lina.
Dalam sambutannya Dr. KH. Tarmizi Taher selaku Ketua Umum PP DMI
menjelaskan, saat ini adalah abad “duit” karena itu orang tidak membayangkan
akan terjadi krisis moneter di Indonesia dan krisis finansial di dunia.
Para ahli ekonomi bertanya apakah kita akan dapat mengatasinya pada
2010 atau 2012 tidak ada yang tahu. Karena itu kita di Indonesia sejak
Bank Muamalat berdiri sudah mempunyai embrio ekonomi syariah.
Walaupun secara persentase belum terlampau signifikan.
“Saya bertanya kepada Riawan Amin, berapa sekarang jumlahnya
perbankan syariah. Dia menjawab, yah sekitar lima persen lah.
Jadi secara persentase memang belum signifikan. Tujuan kami di sini bukan
mencetak ahli ekonomi syariah, tapi kami ingin mensosialisasikan kepada
para pengurus masjid, agar bisa direalisasikan di masyarakat,” ujar Tarmizi.
Pada sesi pertama yang dimoderatori H. Sutito, SH., MH menampilkan
dua pembicara Dr. Mulya Siregar, Deputi Direktorat Perbankan Indonesia
(Bank Indonesia) dan Prof. Dr. Veithzal Rivai MBA, Ketua Dewan
Pakar Ekonomi Syariah Indonesia.
Mulya Siregar dalam paparannya membahas sistem ekonomi Syariah peluang
dan tantangannya dalam kancah perekonomian global. Dia mengatakan,
pada Februari 2007 yang mengawali krisis global ini terjadi memang
karena pembiayaan yang diberikan kepada masyarakat di Amerika yaitu tidak
memperhatikan azas kehati-hatian sehingga siapa saja bisa dapat pinjaman,
orang yang tidak punya jaminan pun diberikan saja pinjaman, dimana
kemudian pada akhirnya terjadi kepanikan di masyarakat untuk mengklaim
asuransi sedangkan pihak asuransi pun tidak dapat memenuhi kewajibannya
atas klaim masyarakat. “Ekonomi Syariah menjadi solusi menghadapi krisis
ekonomi global, saya menyambut baik seminar yang digelar Dewan Masjid
Indonesia untuk mensosialisasikan sistem keuangan syariah ini, ” ujarnya.
Pembicara lainnya Yuslam Fauzi, Direktur Utama Bank Syariah Mandiri
memaparkan keunggulan perbankan, Asuransi, Koperasi dan usaha-usaha
lain dengan menggunakan sistem Syariah. Dia mengungkapkan dalam krisis
global ini bagaimana dunia Islam ini dengan ekonomi Syariahnya dapat
mengatasi krisis bisa melakukan perbaikan yang ada.
Sebenarnya, katanya
tujuan Syariah itu tidak lain adalah untuk meningkatkan kesejahteraan umat
manusia. Saya ingin melihat fakta bagaimana dunia Islam termasuk
Indonesia tingkat kesejahteraannya sejauh mana. Apa bisa dunia Islam ini
mengambil alih kepemimpinan kesejahteraan umat manusia dalam waktu dekat.
Untuk itu kita harapkan selaku muslim kita harus memaknai dan mempelajari
Syariah yang lebih luas lagi. (nang) |