PRAWACANA BAMMUS JABAR

Sabtu, 31 Januari 2009

Pertemuan para tokoh Sunda untuk menampung aktivitas kegiatan kasundaan yang selama ini tercerai berai dengan membuat suatu badan rumah besar bersdasarkan inisiatif para tokoh Sunda yang ada di Jakarta sehingga tercipta sinergi yang baik di antara komunitas Sunda itu sendiri jangan sampai terjadi praduga bahwa Sunda tidak bisa eksis baik di tatanan pemerintahan maupun pada kehidupan masyarakat sehari-hari.

Hari Sabtu, 31 Januari 2009  bertempat di gedung Museum Sri Baduga Maha Raja Bandung, atas prakarsa mantan Kepala Dinas Pariwisaata Jawa Barat (Kadisbudpar  Jabar) Memed Hamdan, didukung oleh para seniman, sastrawan, budayawan, politikus serta pemerhati kasundaan telah membentuk suatu rumah besar yang disebut Badan Musyawarah Masyarakat Sunda (Bammus) Jabar untuk selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan pembentukan cabang-cabang di tingkat kabupaten/kota di Jawa barat.

Hadir dalam pembentukan Bamus tersebut antara lain Komjen Polri (pur) Drs Adang Darajatun, tokoh Sunda sekaligus politikus Jaja Subagja Husein, tokoh wanita Sunda juga politikus Ny Hj. Popong Oce Junjunan, budayawan religi Hj. Otih Rostoyati, tokoh Paguyuban Pasundan antara lain Safei dan Turmuzi, Setia Permana politikus, serta tokoh-tokoh Sunda militan lainnya seperti Mubyar Purwasasmita, Us Tiarsa, Ace Hasan, Maryana, Budi Rajah, Hendarmin, Abah Cakra Waluya, Abah Dago, Abah Rahmat Bedog, Acung Suryadi, Helmi, Andri, Ernawan, hadir juga tokoh Sunda lainnya Cece Padmadinata dan Buki sejarahwan antropologi Sunda. 

Dalam prawacana dikemukakan antara lain, “Sunda teh nyampak kukituna kudu bisa midang sangkan bisa tandang ngabela tur ngawangun kahirupan masyarakatna”.

Ucapan ini tercermin di tengah kontroversi ekspos pemerintah yang selalu menyampaikan pesan keberhasilan pembangunan, di Tatar Sunda (Jawa Barat, Jakarta dan Banten) dengan kenyataan yang ada ternyata angka kemiskinan terus bertambah sementara pengangguran semakin meningkat.

Dalam hal ini sangat dirasakan bahwa Sunda sebagai idealisme untuk kemakmuran, kesejahteraan serta ketentraman kehidupan masyarakatnya masih jauh bahkan makin jauh panggang dari api. Hal demikian, para analis dan pakar banyak yang konstantir bahwa cita-cita kemerdekaan untuk mewujudkan negara yang adil dan makmur, yang makmur dalam keadilan sekarang ini baru bisa dinikmati oleh segelintir penduduk strata atas saja sementara masyarakat mayoritas senyatanya masih bergelut bersimba peluh hanya untuk  bisa memenuhi kebutuhan pokok keluarga termasuk biaya pendidikan.

Sejalan dengan kondisi ini ternyata pula para petinggi pengelola negara banyak yang diperiksa dan ditahan karensa dugaan penyelewengan dana masyarakat yang delola pemerintah.

Gelora pembangunan yang begitu deras baik di bidang sarana maupun prasarana terutama dengan perkembangan teknologi media yang tinggi telah menempatkan nilai kelokalan dalam masyarakat demikian terpojok. Di masyarakat perkotaan kearifan lokal tersebut sudah tidak lagi mampu menopang terbangunnya suasana kehidupan masyarakatnya.
Sifat masa bodoh, acuh tak acuh, kesombongan, kehidupan individualisme yang mengakar merupakan monster yang sangat menakutkan, sehingga hasil dari pembicaraan yang ada bersepakat untu memeranginya dengan kembali kepada filsafat Sunda yang berani menentang arus sederas apapun. Bahkan seorang Cakra Waluya (pemikir Sunda) menegaskan dengan lantang  dia tidak sepakat bahwa orang Sunda disebut sebagai penakut alias “meok memeh dipacok” karena orang sunda mempunyai sifat pemberani, dimanpun mereka berada selalu disegani.

Di sisi lain sikap  “pragmatisme politik” sudah menular kepada seluruh warga masyarakat telah mengakibsatkan biaya tinggi bagi mereka yang terjun dalam kancah politik.

Dari beberapa pembicara dapat disimpulkan bahwa Sunda harus ada kemauan dan kemampuan masyarakat Sunda itu sendiri untuk melakukan pengawasan terhadap prilaku supra dan inpra stuktur politik agar ketimpangan kehidupan di masyarakat segera dapat diatasi.

Di bidang kebudayaan pembicara dari Karawang mensitir kata-kata orang kanekes (badui) “ajen kulit lasun di jarian leuwih mulya tibatan lemah cai diranjah deungeun”  Sebagus-bagusnya budaya asing lebih bagus budaya sendiri  yang mempunyai nilai kepribadian yang tinggi. Sunda dalam hal ini menjujung tinggi budaya sendiri dengan tidak ketergantungan terhadap pihak lain.

Bamus ditutup dengan kesepakatan deklarasi akan dikumandangkan  pada 21 Februari 2009 di tempat yang sama.  Bandung, Mas Gunawan Waluyo melaporkan untuk Cakrabuanatv.com